Opini Etika Politik


Dalam kehidupan setiap manusia, kita pasti disajikan dengan suatu kata yang bermakna bahkan dipakai dalam setiap maksud dan arti dari beberapa aspek kehidupan, seperti halnya kita makan, minum, bahkan menjalankan kehidupan kita sebagai manusia, kata itu disebut dengan “etika”. Nah, dibalik itu kita mengingat satu kalimat penting namun berbeda maknanya yaitu “kode etik”. Etika adalah ilmu yang membahas tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang hak dan kewajiban sedangkan etik adalah kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.


Dari pernyataan diatas gua menyimpulkan bahwa etika itu ilmunya sedangkan etik nilai yang kita lakukan, makanya etik sering diawali dengan kata kode depannya. Di tahap ini gua akan menjeleskan opini gua tentang etika politik. Politik dalam KBBI cetakan V adalah pengetahuan mengenai ketatanegraan atau kenegaraan seperti sistem pemerintahan, namun secara cakupan mikro politik adalah cara bertindak dalam menghadapi atau menangani suatu masalah.


Mayoritas manusia menganggap bahwa politik itu suatu hal yang rumit bahkan ada juga yang memandangnya jahat. Namun dibalik itu tanpa disadari kita semua berpolitik selama 24 jam. Kita dapat menemukan bahwa politik bukan hanya suatu yang cakupannya luas seperti pemerintah, tapi juga tentang bagaimana berorientasi menjadi masyarakat yang menjalani kehidupan sehari-harinya.


Seperti ketika kita sedang berada didalam sebuah toko makanan atau restaurant dengan waktu yang cukup lama untuk memilih menu apa yang akan kita makan. Anehnya ditengah kelaparan yang melanda kita bukannya gesit dalam memilih menu tapi justru kita tetap melihat-lihat apa saja yang ditawarkan di tempat itu, lalu mencocokannya dengan selera makan dan juga kondisi finansial kita


Pendapat tersebut cukup jelas bahwa kita setiap hari berpolitik. Teman kita yang sering mengatakan rumit bahkan jahatnya politik tidak mengetahui bahwa setiap hari dia juga berpolitik, karena yang ada dalam pikirannya kata “politik” selalu bersangkut baut dengan pemerintah. Meski hal itu benar tapi tidak sepenuhnya, karena kenyataannya politik itu selalu bersangkutan dengan kehidupan.


Mari kita lihat dari segi pemerintah tentang etika politik. Indonesia bernapas dalam atmosfer politik yang mahakuroptif. Dimana kita selalu ingat slogan mereka yaitu “kepentingan yang bertemu dengan kebutuhan” kepentingan rakyat yang selalu bertemu dengan kebutuhan pribadi, dan secara spontan kepentingan itu dikalahkan dengan kebutuhan pribadinya.


Para aparatur negara yang sedang bermasalah dan dalam penangan kasus tidak jarang mereka berani bicara, “kalau saya belum terbukti secara hukum bersalah buat apa mundur.” Padahal jelas, hukum atau peraturan itu hanyalah formalisasi dari nilai etika, moral, dan agama. Tabungan moral yang diwarisi oleh para pendahulu semakin menipis, sementara kita masih gugup dan gagap dalam melakukan reinvestasi moral bagi generasi mendatang.


Perhatikan juga bagaimana partai-partai mendomplengkan artis dalam menghimpun suara untuk kemenangan partainya dalam kontes pesta politik. Drama perpolitikan negeri ini diisi oleh lakon-lakon yang hanya bermodal muka tampan tanpa pertimbangan kapasitas intelektual. Rendahnya IQ politisi tentang penyelenggaraan pemerintah yang baik turut memberikan alasan mengapa etika mengalami degradasi yang begitu masif. Ungkapan politisi yang tidak dibarengi dengan kedalaman berpikit dan argumen berhasil memproduksi kebijakan yang kontra terhadap kemajuan bangsa.


Dapat kita simpulkan bahwa pemerintah saat ini tidak menjalankan etika politik dengan baik. Mereka hanya menjalankan sesuai apa yang mereka anggap baik karena mereka merasa apa yang mereka lakukan adalah yang terbaik. Seperti ketika mereka menangani Pandemic Covid-19 ini, dimana pemerintah seperti sedang bermain. Berawal dari Indonesia yang tidak terkena virus ini, namun imigran China di sambut dengan hangat sampai dengan adanya PSBB 1 dan 2. 


Bahkan di tengah wabah ini, pemerintah masih saja sempat membahas tentang undang undang OMNIBUSLAW yang seharusnya pemerintah lebih meringankan dan mencairkan suasana Pandemic ini. Sangat menunjukan bahwa Indonesia yang sudah menua memiliki problematika kebangsaaan dan kemanusiaan, hal itu membuat mayoritas rakyat Indonesia yang sangat ingin mengharumkan nama bangsa justru harus tersakiti dengan keadaan yang sangat menderita.


Komentar

Postingan Populer