Jika Aku adalah Seni maka akan ku Buatkan Karyanya

Ada sebuah kisah antara dua orang "sahabat" yang selalu bertemu dengan tujuan sampai tanpa tujuan. Mereka sering berdua, Samson dan Jameson. 


Dua orang sahabat yang bahkan pertemuannya sudah tak terhitung dalam waktu Tahun Masehi atau Hijriah. Mereka sudah berteman lama walaupun pada awalnya, berasal dari ketidaksengajaan. Samson yang kebetulan mantan kekasihnya adalah teman dari Jamesson. 


Kebersamaan mereka tidak pudar walaupun dengan latar belakang yang berbeda, jalan pikiran yang berbeda, bahkan langkah tindakan yang berbeda tapi disatukan dalam lingkungan nan sama. 


Lingkungan yang digadang-gadang sehat dan bugar, karena hampir setiap hari aktivitasnya adalah bersepeda. Tidak jarang kawan-kawan lain pun ikut dalam bersepeda atau zaman ini bilangnya "gowes" wkwk


Satu hari, Jameson yang selalu dipanggil "sukap" ini oleh Samson jatuh dari sepada lusuhnya. Iyaa.. jatuh. Kamu tidak salah baca, dia JATUH. Jatuh dengan keadaan "pasrah" namun berpikir untuk "bangun" tapi juga "malu" dengan situasi yang ada. Momen itu hening, padahal jatuhnya dimuka umum dengan banyak orang menyaksikan. Tapi mereka diam, hanya ada satu suara yang melontar dari seribu insan yang ada, yaitu suaranya Samson


"Duhh jatuhkan HAHA. Cukup sukap, sudahi perkaramu. Buat apa kamu terus mengayunkan hal yang sebenarnya sudah tidak layak untuk diayunkan? Cari Sepeda Baru, di luar sana PASTI masih banyak yang jual sepeda, di luar sana PASTI banyak penjual yang masih menawarkan sepedanya untuk beli dan dipakai sebagaimana mestinya. Kamu ini emang unik ya, sepeda rusak begini masih aja dipake, bahkan terus-menerus kamu benerin walaupun sepedanya udah nolak dan gamau. Aku salut padamu bisa setia dengan sepeda bututmu itu!" ujar Samson kepada Jameson


Tapi Jameson tidak mengaminkan perkataan Samson "Dikit lagi, bakal bisa lebih bagus dari penjual² yang kamu bilang itu kok! Anganku kan menjadi realita. Kamu lihat saja nanti hasilnya, mungkin kamu akan mau memiliki sepeda sepertiku nanti. Aku selalu memandang sepadaku seperti taksiran teknik 'POINTILIS' yang diawal dan tengah pasti belum terlihat bagus. Tunggu Saja!"


Percakapan itu berjalan tanpa adanya interupsi dari insan lain yang ada disana, padahal Jameson yang menjawab seperti itu yakin dengan keyakinan terdalamnya selalu dianggap hanya sebatas "PEMIMPI" saja. Tapi ku heran dengan Jameson kuat sekali tekadnya.


TAPI INI BUKAN TENTANG SEPEDA.

Komentar

Postingan Populer